Meromantisasi Hujan
Hujan
Aku suka hujan. Hujan memberikan kesejukan, menenangkan, dan tentunya menjadi lebih cepat ngantuk haha. Tapi realitanya, hujan membawa perasaan gelisah karena harus tinggal di daerah yang rawan banjir. Bukan ketenangan yang tercipta melainkan kegelisahan. Kegelisahan karena khawatir akan menjadi banjir dan menggenangi rumah. Ya tentu saja, hujan tidak salah. Karena hujan adalah anugerah dari tuhan. Bahkan ada doa supaya turun hujan kan? Yang salah adalah karena aku harus tinggal di lingkungan yang perancangan aliran airnya buruk dan masyarakat yang masih abai dengan lingkungan.
Balik lagi ke hujan. Hujan memberikan kesejukan dan ketenangan. Setiap tetes air yang jatuh memberikan ketenangan, angin-angin beriringan dengan air hujan yang jatuh ke tanah memberikan kesejukan. Semakin syahdu jika sedang di taman atau di dalam rumah yang dikelilingi taman atau kebun yang hijau. Semakin sejuk suasana yang tercipta. Bahkan bagiku, hujan juga bisa membawa suasana yang romantis. Meromantisasi hujan dengan menikmati suara hujan, minum secangkir teh atau kopi hangat sambil melihat cipratan air hujan di kaca jendela. Bisa sambil melukis atau membaca buku, menulis catatan harian juga bisa. Apalagi kalau menikmati hujan bersama keluarga atau seseorang yang kisa sayang. Membawa rasa kehangatan dibalik cerita dan senda gurau bersama keluarga, membawa kehangatan dibalik selimut dan pelukan dari orang tersayang. Bahkan, suasana hujan di sebuah taman bersama seseorang yang kita sayang tidak kalah romantis. Aku jadi teringat film animasi "The Garden Of Words". Menurutku, film animasi tersebut termasuk salah satu film meromantisasi hujan tetapi tanpa disengaja. Sangat sejuk dan romantis. Hanya dengan hujan dan suasana kota yang mendukung bisa menciptakan sebuah perasaan cinta.
Itulah alasan, aku suka hujan. Dan aku suka dengan film animasi "The Garden Of Words". Sudah rewatch 4 kali. Dan mendengar instrumen lagunya di spotify. Magis.


Komentar
Posting Komentar