Cita-citaku
Membicarakan cita-cita tentunya sangat menyenangkan. Aku jadi teringat saat masih duduk di bangku sekolah dasar pasti selalu ditanyakan cita-cita saat dewasa ingin jadi apa. Wah anak kecil itu memang berfikirnya masih simple ya, lagipula kan memiliki cita-cita adalah hak setiap orang. Justru bagus kalau sedari kecil sudah tahu cita-citanya ingin jadi apa. Aku masih ingat saat sekolah dasar, cita-citaku ingin menjadi pelukis. Aku memang hobi menggambar sejak kecil, bahkan sejak belum duduk di bangku sekolah dasar. Aku sangat ingat saat kecil suka sekali mencoret-coret tembok. Ibu dan ayah sih tidak mempermasalahkan, tapi aku kurang mendapat support yang bagus mengenai hobi itu. Ayahku selalu terobsesi supaya pintar di bidang sains.
Kembali lagi ke cita-citaku yang terus berlanjut saat aku memasuki bangku sekolah menengah pertama (SMP). Aku sangat suka mata pelajaran seni rupa, bahkan aku pernah mengikuti lomba menggambar di Walikota Jakarta Barat walaupun kalah. Ya, cita-citaku ingin menjadi seniman. Simple saja, karena aku suka melukis. Ditambah semenjak aku berteman dengan beberapa wibu di kelas, aku terfikirkan ingin menjadi animator (catat ya, animator! Bukan menjadi wibu). Semua tidak ada masalah, masa-masa di bangku SMP masih tergolong aman-aman saja. Hingga saat aku masuk di bangku SMA, semua berubah. Mungkin untuk kebanyakan orang, masa SMA itu masa-masa indah. Aku melihat ada yang menjalin kisah asmara malu-malu kucing, lalu ingin saling menatap tapi tersipu malu ceilaaahhhhh hahaha. Ada juga yang sangat ambisius mengikuti perlombaan dan sering sekali menyendiri di dalam perpustakaan ditemani dengan buku-buku tebal nan berdebu. Ada juga yang sangat nakal dan gila. Gila dalam arti bukan sakit jiwa, tapi otaknya yang gila. Gemar sekali membuat rusuh dan memanjat pagar belakang sekolah sampai dipasangi kawat berduri. Hilih, begitulah kehidupan SMA. Oke lanjut, saat sudah kelas 2 SMA, guru BP sudah mulai melakukan bimbingan dan arahan kepada siswa-siswa ingin kuliah di mana, jurusan apa, syukur-syukur kalau yang dipilih selaras dengan minat. Aku melihat teman-temanku memiliki cita-cita yang bagus dan tentunya waras ya. Aku pun bahagia saat mengetahuinya dan berdoa supaya cita-citanya terkabul.
Lalu, saat giliranku ditanya ingin kuliah jurusan apa, ku jawab saja ingin kuliah jurusan seni rupa karena ingin menjadi seniman. Respon teman-temanku...........TERTAWA. Ya, tertawa. Kata mereka cita-citaku tidak ada masa depan, tidak bisa jadi orang kaya, suram lah pokoknya. Sampai aku dikirim berbagai meme salah satunya "cari tuh yang seiman, bukan seniman." Dan masih banyak lagi, tapi kata-kata itu yang masih aku ingat sampai sekarang. Sedih? pasti. Marah? Gak bisa juga. Teman-temanku sampai menyarankan aku kuliah jurusan arsitektur, katanya lebih prospek. Andai saja aku paham kalkulus dan kawan-kawannya itu (ucap dalam hati sambil menghela nafas). Setelah itu, aku merasa kecil. Di tambah lagi tidak ada support dari orang tua untuk kuliah jurusan seni rupa. Padahal, aku sangat ingin berkuliah di ISI Yogyakarta karena banyak seniman keren di sana. Karena merasa sudah tidak ada harapan, akhirnya aku memilih jurusan lain. Aku memutuskan untuk lintas jurusan memilih jurusan sastra Belanda dan Arkeolog.
Dan akhirnya apa? Aku tidak lolos tes. Entahlah, kehidupan ini rasanya pusing sekali. Sampai pada akhirnya, kakak kelasku memberitahukan bahwa ada politeknik dengan masa kuliah 4 tahun program studi DKV konsentrasi desain grafis. Bergegas aku mendafat H-1 sebelum penutupan. Setelah melalui berbagai tahapan yang melelahkan, akhirnya aku lolos dan menjadi mahasiswa desain grafis. Sampai akhirnya aku lulus, aku bekerja sebagai desainer grafis. Jika aku mengingat masa lalu, memiliki cita-cita itu kehausan, itu juga sebagai bentuk manifestasi. Walaupun aku tidak menjadi seniman, setidaknya aku pernah merasakan menggambar dengan berbagai media, diajarkan oleh dosen-dosen bertalenta lulusan ISI Yogyakarta. Ya, ISI Yogyakarta kampus impianku dulu. Bertemu pekerja kreatif yang hebat-hebat. Sungguh, aku sangat bersyukur sekali.
Walaupun menjadi desainer grafis tidak mudah, terutama di Indonesia ini. Tapi aku tetap mencintai profesiku sebagai desainer grafis bahkan ingin melebarkan sayap mencoba bidang yang masih serupa. Jika ditanya ini adalah cita-citaku, tentunya bukan. Tapi aku percaya, tuhan memberikan versi terbaik untukku namun tidak menggugurkan keseluruhan apa yang aku cita-citakan dari kecil.


Komentar
Posting Komentar