Menjadi Dewasa

    

    Waktu aku kecil, aku tidak pernah berpikir bahwa kehidupan dewasa terlihat menyenangkan dan banyak kebebasan. Aku bahagia dan sangat menikmati kehidupan masa kecilku. Bermain sepeda bersama teman-teman, bermain mandi bola ditemani kedua orang tuaku, bermain sepatu roda, bermain layangan dan kelereng, dan masih banyak lagi. Aku sangat bersyukur bahwa tidak ada tragedi yang merenggut masa kecilku sehingga aku bisa menikmatinya dan mengukir kenangan indah yang terpatri di dalam otakku. Hingga masuk ke masa remaja dan setengah dewasa (entahlah, apakah masa SMA masih terbilang remaja? aku rasa tidak. Jadi aku bilang saja setengah dewasa), aku tetap menikmati sebagaimana mestinya kehidupan di usiaku. Walaupun ada guncangan-guncangan menggelitik, hmmm apakah itu sebuah trial menuju kehidupan dewasa yang sesungguhnya? Entah, saat itu pikiranku belum menuju kesana.
    Menuju masa-masa kehidupan di perkuliahan, aku sangat bersyukur sekali karena bertemu dengan teman-teman yang "senasib" atau lebih spesifiknya memiliki latar belakang ekonomi yang mirip. Di awal perkuliahan banyak sekali kebutuhan membeli alat tempur anak DKV yang lumayan menguras dompet mungilku, sehingga aku memutuskan untuk bekerja lepas sebagai asisten pengajar di sebuah tempat bimbingan belajar. Dan ternyata, beberapa temanku pun demikian. Mereka juga mengambil pekerjaan, ada yang bekerja sebagai pegawai percetakan, penjaga warung, menjadi joki, dan masih banyak lagi. Dari situ aku berpikir, menjadi orang kaya adalah sebuah previlege, mereka bisa membeli apapun yang mereka inginkan dan tetap fokus dengan perkuliahan tanpa perlu memikirkan biaya beserta perintilannya yang ternyata lumayan juga.
    Setelah lulus, kehidupan menuju kenyataan mulai datang. Aku kira, kehidupan saat covid sudah paling gila. Ternyata, kehidupan dewasa yang sesungguhnya lebih dari itu. Sejak aku lulus kuliah dan memperoleh gelar sarjana terapan, aku sedikit kesulitan memperoleh pekerjaan tetap. Aku harus menunggu kurang lebih 3 bulan dan akhirnya ada sebuah perusahaan education technology yang mau memberiku kesempatan untuk berkembang. Tempat kerja yang sangat nyaman sekali, hmmmm mengapa aku bisa bilang nyaman? Karena sistem pekerjaan dari rumah, tidak palugada, rekan kerja yang sangat baik dan tidak pelit ilmu, leader yang sangat baik dan mengayomi anak-anaknya. Tetapi tidak ada perusahaan yang sempurna, bukan? Setelah bekerja 9 bulan aku terkena badai layoff. Sedih? Oh tentu. Tapi ya bagaimana? Hidup harus tetap berjalan bukan?
    Lagi-lagi, aku harus menganggur kurang lebih 3 bulan dan akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang menurutku sangat bagus dan prospek sekali. Namun sayang sekali, kemampuanku masih jauh di atas standar perusahaan. Dengan kontrak kerja 3 bulan dan tidak berlanjut, lagi-lagi aku mendapatkan gelar "pengangguran". Entah, semenjak itu mentalku sedikit terguncang. Beban kerja yang tinggi, kantor yang sangat jauh, dan masih banyak tekanan lainnya membuat aku kehilangan kepercayaan diri dan ketidakyakinan akan diriku sendiri. Aku memutuskan untuk ke psikolog, dan aku mengidap gangguan kecemasan. Masih di waktu yang sama, efek stress jangka panjang membuat aku sakit dan harus kontrol ke klinik selama 1 bulan penuh dengan kabar buruknya, jika sakitku tidak kunjung sembuh maka aku harus dirujuk ke rumah sakit. Ah, sudah menganggur sakit pula. Merepotkan saja.
    Setelah 3 bulan bergelut dengan diri sendiri dan keadaan, akhirnya aku bekerja kembali di perusahaan yang sedang merintis dan kantornya dekat dari rumahku. Tapi lagi-lagi tidak ada perusahaan yang sempurna, bukan? Walaupun rekan kerja banyak yang seusia denganku, tetapi memiliki owner yang micromanage, sistem yang belum terbentuk dengan baik, dan masih banyak lagi hal lainnya yang cukup membuat aku sedikit kurang nyaman. Namun aku tetap bersyukur karena aku jadi bisa belajar banyak hal walaupun akhirnya lagi-lagi berakhir menyedihkan. Entahlah, untuk bagian yang ini rasanya agak malas aku ceritakan. Dan lagi-lagi, aku menganggur kembali. 
    Terhitung sampai saat ini, sampai aku tulis blog ini, aku masih menjadi pengangguran. Sudah cukup bosan tapi aku harus tetap waras. Jika tuhan mengujiku untuk menjadi hamba yang sabar, bismillah aku terima. Katanya, harus berprasangka baik dengan manusia bahkan tuhan pencipta alam semesta, bukan? Jika terus berprasangka baik maka kebaikan juga akan menghampiri hidup kita. Walaupun hari-hari rasanya berat, namun begitulah kehidupan. 



Komentar

Postingan Populer